Darah hina kaum pezina

Darah hina kaum pezina

 

Darah hanya mengalir dalam darah, mengembung dalam senyapnya tubuh manusia yang berzina di dalam ranjang butut ini, mengembungkan cairannya dalam uap dan mengalir dalam keringat yang baud an berubah mmenjadi lengket dan a asin, bercampur aduk di dalam ketiak manusia dan leoatan payuradah, rambut rambut halus bergessekan dalam lengus yang pperlahan menjadi liar, dan berteriak di antara dinding dinding lembab yang mengelupaskan cat murahannya

Wanita berambut panjang itu dengan buas mengerang di antara tengkuk pejantannya yang dengan gagah menenteng lelakinya di antara temaram malam yang mulai menjadi lembab, lampu 5 watt ruangan itu tidak menghalangi sang pria  untuk menejelajah tubuh sintal wanitanya, dan keheningan malam perlahan kembali pada detik detik jam yang kembali pada takdirnya.

Wanita itu perlahan keluar dengan menrapikan rambutnya yang lembab, dan malam sudah sangat larut di antara musyafir yang sudah lelah dan membiarkan kota ini terdiam di anatara lampu merah yg sudah berganti oranye.

***

Aku terjaga di antara lengang malam, dashboard mobilku penuh dengan ke tidak teraturan tembakau, cimeng dan botol botol alcohol illegal di antara kaki kaki, petaa sudah idak mampuh membawaku kea rah yang benar, se akan aku berada di tempat yang bahkan peta tak menaampungnya.

Senyap di antara warna kuning lampu kota yang muram, kuhentikan laju mobilku, asap rokok tipis terlepas di anatar bibirku yang sudah sangat kering dan asam, apakah muncul sebuah tujuan untukku mala mini, atau masih seperti satu jam, atau bahkan kemarin, tidak memiliki tempat yang jelas untuk terlelap, tidak untuk rumah, tidak untuk bercerita, hanya untuk lari, hanya untuk minum dan hanya untuk mengampuni diri sendiri.

Jam digital di dashboar sudah menunjukan pukul dua dini hari, dan masih sama saja matau menatap konong jalanan yang hanya sekali kali terlihat mobil lewat, dan beberapa kali terlihat seasang muda mudi yang habis berzina lewat, dan selain itu hanya kucing yang kelaparan mengendus endus jalanan yang hanya berisi debu dan penyesalan.

**

Wanita itu berdiri di antara perempatan jalan meihat nanar jalanan yang oranye dan sepi, di antara lampu trafict yang ikut mengoranyekan jalanan, pos polisi pun sudah hilang dari keramaian, dan yang ada hanya sebuah mobil yang terparkir di samping took obat 24 jam yang sepi.

Rokok wanita itu masih setengah ketika dia melihat ada manusia di dalam mobil itu, terdiam sebentar, dia berjalan sempoyongan dan pelan, badannya yg sudah tidak lengket lagi tersapu oleh angin malam kini berdiri di  dekat pintu mobil dan terdiam sebantar.

Aku terdiam di antara rokokku yang sudah habis, perlahan kubuka kaca mobil dan meilihat wanita itu, dia terlihat kacau walau tak bisa di pungkiri dia cantik, tapi apa butuhku dengan dia yang kini melihatku sayu, pakaiannya bagai seorang pelacur.

Terdiam terbiarkan di antara jalananyang sepi, kini wanita itu ada di sebelahku, dan sedaaang tak saling tatap. Tak sedang saling bincang hanya melihat kedepan dengan diam, kunyalakan lagi rokok ku dan perlahan kubiarkan oksigen mengisi paru paruku, kuhembuskan nafasku dengan lepas, sambil akhirnya melepas celanaku dan membiaarkan wanita itu bekerja lagi malam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s