desa yang hilang (cerita horor) bag 1

best thing that you ever had ?

index

sudahlah tidak perlu membahas hal hal seperti itu lagi, kita sudah teralu tua untuk membahasnya, karena pada dasarnya yang perlu kita ketahui adalah, apakah kamu hari ini dan besok, adalah orang yang sama, atau mungkin berubah menjadi seorang bajingan yang bisa membunuh temanmu sendiri, aku tak pernah tau kamu hari ini, kemarin, dan pasti besok, aku tak akan pernah tau.

dia berjalan keluar ruangan tanpa berkata apa pun, wajahnya yang sudah dari tadi terlihat tidak tertarik dengan apa yang aku katakan semakin datar, dan kini berlalu, tinggal aku dan porter kami yang lebih sibuk untuk membuat api daripada membahas kejadian tadi siang, dan kenyataan kalau kita sedang tersesat entah dimana, dan porter kami sendiri tidak mengenali daerah ini.

“aku sudah menjadi porter sejak 20 tahun, dan aku baru sekarang aku bisa masuk ke desa ini”. Mangut, porter kami berbicara padaku sambil menjaga api di ruangan rumah yang terbuat dari semen bata, yang lebih mirip bunker pertahanaan.

“apa maksudmu pak? kamu tau kita dimana sekarang ??” aku berjalan mendekat serasa ingin marah karna orang yang bertanggung jawab atas tersesatnya rombongan ku adalah pria setengah baya ini, termasuk kenyataan kalau dua teman kami hilang dan satu teman kami terpaksa kami ikat karna kerasukan.

“dulu dek,waktu saya masih baru jadi guide di gunung ini, ada cerita, satu desa pernah dijadikan kantong pertahanaan belanda, yang kamudian dijadikan tempat eksekusi tawanan dan musuh-musuh belanda” aku mendengarkan pak mangut dengan tidak sabar.

“jadi kita terperangkap di dunia nya hantu maksudmu pak??!!” aku sedikit berteriak.

pak mangut memandangku lama sambil berbicara setengah berbisik. “nah, itu yang aku takutkan, dulu, pernah ada juga rombongan yang hilang disini”
“jadi pak mangut tau dong lokasi desa ini dari basecamp dimana?”

“nah itu dia, di desa ini terkubur di antara gunung ini karna longsor, sisa desa ini hanya satu bungker yang adek temui di atas basecamp”

“jadi kita dimana pak??!!” teriak ku ke pak mangut.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” suara linda terdengar dari luar, yang membuatku dan pak mangut segera menghambur keluar, dalam pikiranku ada sesuatu yang mungkin terjadi dengan linda.

Linda tidak ada, dan kabut turun lagi menyebabkan jarak pandang kami cuma 5 meter, dan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah Rio, teman kamu yang terpaksa kami ikat di pohon karna kesurupan dan mengamuk kini badannya bersimbah darah, seperti ada kekuatan hewan hewan tak kasat mata yang memangsa nya sampai menyenbabkan darah bercecer dimana mana.

“Rio…”ucapku sambil menahan rasa ingin muntah melihat pemandangan sadis di depan ku.

“dekk Lindaaa !!” pak mangot berteriak melihat sudah tidak ada harapan menyelamatkan Rio, dan memang benar prioritas kita sekarang adalah Linda.

“dek banyu, cepet kembali ke dalam, ambil senter sama tas ku, kita cari Dek Linda, bentar lagi gelap” tanpa beratnya dua kali aku langsung masuk ke rumah yang lebih mirip bunker itu untuk mengambil perlengkapan, dan dua ransel serta semua persediaan senter yang kami bawa yang ternyata cuma 2 headlamp dan satu senter kecil, langsung aku masukkan tas, dan bergegas kembali ke tempat pak Mangut.

“Pak mangut.. pak ayo kit..” kalimatku terpotong, pak mangut tidak ada, dan mayat Rio di pohon hilang, Sial… apa yang terjadi, setan apa yang membuat hal se apes ini menimpaku, secepat kilat kepanikan yang dasyat sekonyong konyong menabrak kepala, seperti di tampar keras di pelipis, atau perasaan mau di eksekusi dengan algojo yang sudah siap dengan kapaknya, kepalaku menjadi berat, hawa dingin gunung menyeruak masuk ke dalam jaket parasit ku, bahkan sepatu kulit ku tak cukup untuk menjaga kakiku dari hawa dingin, atau memang aku tidak merasakan dari tadi kalau kaki ku sudah kedinginan, dan sekarang rasanya seperti mati rasa, tidak bisa berjalan, dan aku pun limbung, terjatuh di tanah, dan semua gelap, badan ku kedinginan.

****

perlahan mataku terbuka, tubuhku tidak sedingin tadi, malah terasa biasa tidak dingin, dan hal pertama yang aku lihat ketika membuka mata adalah gelap, dan cahaya bulan yang berasal dari antara pohon pinus yang menjelaskan kalau kabut telah hilang, dan bau anyir ini, pohon itu? Rio? aku langsung teringat Nasib Rio, yang langsung membuatku mengutuk habis habisan keputusanku untuk mengikat Rio di luar, dan kujelajahi apa saja yang ada disekitarku yang bisa ku pakai, senter mungkin, dan benar tas yang aku bawa tadi masih tergeletak di sebelahku, dan ku ambil senter sambil segera menyenteri sekitar mencari petunjuk untuk apa yang sebaiknya aku lakukan, aku jelajahi tiap inchi kegelapan hutan ini, samar terlihat beberapa rumah di antara pohon pohon besar, yang membuatku tersadar, aku benar benar masuk ke desa yang disebutkan pak mangut tadi.

sial sial sial.. aku terus mengumpat dalam hati, aku memutuskan untuk masuk ke dalam bunker rumah sambil berfikir apa yang harus aku lakukan, perlahan aku tertidur, sial kenapa mata begitu berat, api unggun yang aku buat di tempat api unggun bekas buatan pak mangut tadi perlahan meredup, dan entah di antara sadar aku melihat sesuatu di depanku, ruangan ini berbentuk persegi dengan hanya satu pintu untuk masuk dan keluar serta lubang jendela yang berukuran kecil yang hanya cukup untuk mengeluarkan senapan sambil mengintai musuh.

bayangan itu, di antara remang remang itu, aku seperti melihat bayangan hitam, bayangan wanita berbadan kurus, sangat kurus, wajahnya tidak terlihat, semua gelap, hanya bayangan hitam, dia ikut meringkuk sepertiku, akupun tersadar dengan pemandangan tidak beres ini, pasti ini adalah salah satu penyebab aku berakhir seperti ini, ini pasti penunggu disini, dan dia datang untuk membunuhku, atau datang untuk membuatku lebih sial lagi.

bayangan itu lama meringkuk di depanku, lama sekali, mungkin satu, atau dua jam, yang jelas badanku sudah kesemutan dan keringat dingin, mahluk ini, aku baru sadar, dia melihatku, dia punya mata, mata merah, dia punya mulut, mulut yang merah, dia punya taring, taring yang merah, tapi dia tetap bayangan hitam, matanya merah melihatku marah, dan dia seperti mulai bergerak perlahan, perlahan bergerak mendekat ku, bertranformasi dari posisi meringkuk ke posisi siap menerkam, dia siap menerkamku, dan sialnya aku sudah kaku, tak mungkin aku lari, kakiku sudah siap menjegalku dengan kesemutan.

“eeeee” terdengar dia menggeram

“ennnnnn” bayangan itu menggeram dan suaranya menggema di telingaku, seperti dia menggeram langsung di depan telingaku.

“ennnnnyyyyyyy”

“eennnnnyyyyyyyyy”

“ENNNYYYYAHHHHHHHHH !!!” dia berteriak sembari menerkamku, dan nyawaku seperti tertarik lepas dari jasatku.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s