Unwillingness to Dance (the party : banyu side)

sari

DSC01558

“hai, kamu kerja disini?” basa basi yang cukup basi, setelah hampir 30 menit melihat wanita itu di ulang tahun website, kantor mengadakan acara yang melibatkan beer yang harganya bukan kisaran 30 ribuan per botol lagi, tapi di atasnya, kini aku mulai wondering apakah nutron ku mulai lamban atau memang wanita cantik di depan ku ini adalah wanita yang tiap hari aku lihat, atau cewek salah satu karyawan lain yang mungkin akan marah kalau tahu cewek nya aku godai, tapi dari tadi aku tidak melihat pria yang mungkin adalah cowok wanita ini, jadi mari kita coba perkenalan dengan, kamu kerja disini ?

“yup, tapi penulis lepas, yang pasti kamu tak pernah melihatku” ucap nya pelan dan mantap, seperti menunjukan kalau dia adalah wanita yang tangguh, dan terpelajar, dan ya benar saja, aku baru kali ini melihat wajah cantik yang tidak mungkin terlewatkan begitu saja.

“ouw, hei, namaku banyu” dengan agak grogi aku mulai memperkenalkan namaku dan mengulurkan tanganku, dengan disambut senyum, dan tangannya yang putih dan, agak kasar, untuk wanita secantik itu tangan kasar merupakan sesuatu yang sangat kontras.

“panggil aja sari”, seperti ada sesuatu yang magis di aura wanita yang satu ini, sepertinya aku melakukan hal yang tepat untuk tetap bekerja di kantor ini, walau editor ku mirip nenek lampir, tapi pekerja disini cantik cantik, dan jarang ada pria.

“sudah lama kerja disini?” bir dingin perlahan melewati tenggorokanku.

“baru satu tahun, dan kamu?”.

“aku baru 6 bulan kerja di kantornya, dulu juga penulis lepas, kamu nulis bagian apa?”

“aku nulis di semua bagian, kecuali bola, aku tidak terlalu suka bola” dia tersenyum.

“oh ya? ya memang rata-rata yang suka bola itu cowok sar, eh, gak papa kan aku manggil sari?” pancingku biar lebih akrab, dan antisipasi siapa yang lebih tua.

“gak papa, aku masih 23 tahun kali” dia tersenyum sambil meminum habis bir nya, dan meletakan di meja di depannya.

“wow, kita sama, jangan jangan kamu fresh graduate juga?”

“aku udah lulus 2 tahun yang lalu kali, kecepetan kuliahnya, dan beruntung yang lulusnya telat, bisa bebas. hahaha”.

“jadi kamu umur 21 lulus? berapa tahun kuliah mu?” aku mulai melihat alasan kenapa wanita ini memiliki aura yang lain.

“3 tahun,secara teknis sampek wisuda 3,5 tahun, kamu tahu sendiri kan nyu? gak papa kan aku manggil nama langsung? sistem quota kalau mau wisuda”, dia membalasku.

“iya, gak papa, kita seumuran kali, walau lulusnya beda, jurusan apa?”.

“komunikasi, ilmu ngomong, kalau kamu?”.

“teknik industri, agak nyasar kerjanya, namanya juga passion”.

“gak papa kali nyu, itu cuma jurusan, dan itu gak bisa mengubah apa yang ada di sini”, dia menatapku sambil menempelkan telunjuknya di jidatnya yang agak lebar tanpa poni, nelah tengah.

“ada di otak? bukan apa yang ada di hati sar?”, candaku.

“ya nggak lah, hati kan gunanya buat merombak darah merah, bikin empedu, bukan buat merasakan”.

“secara biologi memang gitu, tapi secara ungkapan kan beda sar”, tangkisku.

“biologi..” dia terdiam sebentar, “dan kita sering salah mengartikan jantung sebagai hati, dan liver sebagai hati, ketika otak kita membuat solar plexus kita berkontraksi, karna suatu hal, kita seperti merasakan sakit di dada, dan itu adalah perintah otak, kita menyebutnya hati karna itu terpicu oleh perasaan, dan semua itu merupakan apa yang ada di dalam otak, jadi kita dikendalikan otak, termasuk passion seorang dengan gelar S.T untuk menulis”, dia menjelaskan dengan cepat dan dibarengi senyum lebar yang membuat semua hati pria pasti meleleh seperti butter kena wajan panas.

“ok, i agree” sedikit mengangkat botol kearah sari sebelum meminumnya.

“hai, lihat siapa yang sudah akrab sekarang”, mbak dwi, editorku yang agak gendut, dan cerewet muncul dari samping sari.

“gimana sar kabarmu? makin kurus aja? gak di kasih makan ya sama suami mu?”, wait?? suami… tunggu-tunggu, jadi sari ini sudah punya suami? terkutuk lah wanita wanita yang nikah cepet, semangatku pun turun, karna kesempatanku untuk berkenalan atau ke hal yang lebih jauh seperti sudah terputus, karna aku punya kode etik, tidak akan mau mengganggu punya orang lain, sekarang aku tak memperhatikan percakapan sari dengan mbak dwi, perlahan kurotasikan kepalaku sambil melihat teman kantor lain di belakangku, menunggu kesempatan untuk kabur.

“hai nyu, kamu harus belajar banyak nih sama si sari, masak kamu cuma di bidang brand product terus”, tiba-tiba suara mbak dwi menggelegar, suara yang kuhindari di kantor, karna kalau ngomong ceplas ceplos dan sukanya ngasih tugas, dan tentu saja seperti menjegalku untuk kabur.

“iya mbak, kan aku masih anak baru”, tangkisku sok polos.

“makanya anak baru itu, belajar sama yang ahli, eh, kalian cuma minum bir nih?, tanya mbak dwi.

“ha? iya mbak” aku dan sari melongok melihat mbak dwi yang berbadan agak gendut itu, kelihatan dari wajah sari, dia seperti anak emas yang bakal di undang buat minum liquor mahal, dan sejak aku sudah minggle sama sari, niat kabur sepertinya bukan ide yang bagus, dan stay bersama sari walau dia sudah not available, bukan hal yang buruk demi liquor yang mahal.

“kamu gak buru buru kan nyu” sari bertanya kepadaku.

“nope, i’am free tonight”, jawabku mantab.

“oke, tunggu bos datang baru kita pindah ke club”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s