Aldehid

Aldehid

By : danang banyu

ditulis : 18 feb 2009

Aftermoon : in the rain

 

                Aku di sebuah tempat makan di dekat kantorku ketika aku bertemu dengan seorang pria berjaket merah, dia begitu baik, dia adalah pria yg mudah di ajak bicara terbuka dan baik, tapi aku tak suka cara pandangnya, dia tipe orang yg berbahaya.

 

Pagi ini saya dan kedua temanku memutuskan untuk tutup lebih awal, kami akan sedikit bersenang senang mengingat ini adalah akhir pekan, tidak seperti biasanya, kami jarang berakhir pekan bersama, kedua temanku membawa keluarganya, sedngkan aku hanya sendiri, aku belum berniat memiliki keluarga, dan juga karna belum ada yg begitu membuatku tertarik.

Jalanan begitu langang sunyi tidak seramai biasanya, mungkin sebuah peringatan kematian atau memang peringatan untuk berhatai hati akan badai, beberapa hari ini hujan badai membasahi kota ini, sedikit memberikan kesejukan, sedikit menghilangkan kepenatan, sedikit memberikan ruang bagi oksigen di udara, tapi benar juga, hujan membawa banjir di beberapa daerah di kota.

Mood ku begitu baik ketika Kami merencanakan bertemu di sebuah tempat makan Thailand favorit temanku, karna sebenarnya aku suka dan tidak pilih pilih makanan, aku menyetujuinya dan berangkat ke lokasi sengaja lebih dulu, aku ingin melihat anak anak dari temanku berlarian saat melihatku, aku begitu suka anak kecil walau aku tak punya, jadi dengan anak anak dari temanku itulah aku sering bermain, istri kedua temanku juga begitu baik, mereka suka memasakan sesuatu saat aku berada atau lembur di rumah mereka untuk mengerjakan sebuah desain, terkadang memang aku ingin sekali mengakhiri masa lajang ini, mengingat aku sudah hampir kepala tiga, tapi untuk apa terburu buru, aku merasa sudah memiliki keluarga, teman temanku, dan keluarga mereka, kami sudah seperti keluarga.

Kini aku tepat di depan seorang gadis kecil, anak dari temanku, dia tersenyum berbinar melihatku, sepertinya gemas melihatku, dia kemudian mendatangiku dan meloncat kegirangan yg berarti aku harus menemani dia bermain, dia duduk di pangkuanku, ibunya berkali kali mengingatkanya untuk tidak nakal, tapi memang anak bandel persisi seperti ayahnya, dia terus meloncat loncat hingga aku sempat kualahan, mengingat ini tempat umum, kami duduk bersila melingkari sebuah meja, aku bagaikan baby sitter yg terus mengawasi anak mereka, mereka berdua hanya tertawa melihatku kewalahan menangani gadis kecil in yg begitu hyper super aktif, aku bingung gadis ini menkonsumsi apa hingga begitu aktif.

Di luar hujan sekarang, tapi teman kami yg satu belum juga Nampak, mungkin dia tidak datang, atau sesuatu telah terjadi, dugaanku benar, dia men telepon ku, anak kembarnya sakit hingga dia membawanya kerumah sakit, mungkin parah, tapi dia berhasil menyakinkan kami untuk tetap menikmati malam tanpa dirinya, memang terasa tidak nyaman meninggalkan teman yg sedang mengurus anaknya sakit, tapi dia melarang kami menjenguk, kami hanya terdiam, bagaimanapun kami tetap akan menjenguk, tapi bagaimana pun benar kata teman kami, kami harus tetap menikmati mala mini, akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk si kembar setelah dari sini.

Di luar hujan, mungkin bukan hujan seperti biasa, mungkin badai lagi, mungkin juga petir, entahlah apa tapi kami menjadi begitu malas beranjak dan memutuskan untuk menikmati hidangan yg seharusnya menjadi favorit teman kami, tapi sayangnya dia tidak hadir, kami bercakap banyak hal, karna aku tidak begitu pandai maslah kuliner, aku hanya menyamaratakan rasa masakan, termasuk rempah rempah yg katanya langsung di datangkan dari Thailand ini, semua terasa sama, hingga aku tak mengecapnya terlalu lama.

Hujan badai kelihatannya tidak tertarik untuk pergi, atau mungkin sedang ada reuni antara hujan, angin dan petir, katiganya menari dengan riangnya dim luar sana, dan petirlah yg paling cerewet, dia berkali kali menggelegar begitu dekat, gadis kecil itu brsembunyi di pangkuan ibunya yg terus membuat kami tertawa. Dia begitu lucu ketika ketakutan, tidak sepeti saat tadi, dia terlihat menggemaskan.

***

 

                Aku membasuh wajahku  dan melihat di cermin, aku hanya melihat diriku, wajahku terlihat begitu kusam, mungkin lelah, mungkin saja memang aku tak pernah  begitu memperhatikan, aku telah menjadi kusam, terlalu lelah dengan rutinitas.

 

Pria berjaket merah itu berada di sini juga, dia tersenyum melihatku, sebuh kebetulan di tengah badai, aku yg baru dari toilet hanya dapat mempersilahkanya bergabung ketika  dia meminta, dia mengaku hanya mampir untuk bersembunyi dari badai, dia mengaku temannya adalah pemilih tempat makan ini, kami bercakap lagi, bercakap banyak hal, hingga temanku juga ikut bercakap, pria ini benar benar pintar untuk berteman, tak heran dia memiliki teman di mana mana, tapi entah kenapa, aku masih tidak begitu suka dengan pria itu, terlebih saat dia bertanya tentang wanita yg datang tempo hari, entah dari mana dia tahu hal itu, seperti terdapat sesuatu yg menakutkan di dalam dirinya, atau mungkin aku saja yg terlalu sering melihat film, hingga bayangan konyol itu muncul.

Gadis kecil itu tetap diam di angkuan ibunya, mungkin saja dia ketakutan karna badai atau memang sudah lelah, tapi percuma kami masih merasa malas untuk beranjak, badai di luar sana masih berdansa, kita masih saling bercakap ketika lampu tiba tiba mati, para pengunjung yg lain juga sempat berteriak kaget, terlebih mereka yg membawa anak kecil, tapi aku heran, gadis kecil itu tetap diam tak bersuara, mungkin saja dia tertidur, keadaan restaurant ini menjadi sepenuhnya gelap, sepertinya bukan hanya restauan ini yg mengalaminya, di luar juga terlihat gelap, hanya lampu lampu mobil yg telah.

Tiba tiba lampu darurat menyala, lampu dari generator yg hanya memberi pencahayaan remang, tapi sudah cukup untuk memberikan penglihatan kami kembali, aku baru sadar pria ber jaket merah itu sudah tidak ada, atau mungkin dia pergi saat mati lampu tadi, siapa yg tahu, pria itu pergi begitu saja, kami sempat heran, pria yg datang tak di undang pergi juga tanpa sepengetahuan kami.

Mati lampu dan lampu darurat sudah cukup membuat kami berfikir untuk meninggalkan restaurant ini segera, kami akan menuju rumah sakit untuk menjenguk si kembar, masih belum terlalu larut untuk itu, apalagi rumah sakit memiliki generator yg cukup untuk men supply energy ke seluruh fasilitas ,segera setelah kami meninggalkan restaurant, aku menitipkan laptop ku ke temanku, karna terlalu berbahaya membawanya menembus hujan dengan motor, apalagi terdapat banyak data penting di dalamnya, jadi mungkin lebih baik aku titipkan di mobil temanku, aku memutuskan untuk lebih dulu ke rumah sakit. Jalanan begitu kacau, bahkan tak ada polisi yg berjaga di perempatan, hanya terlihat mobil pegawai perusahaan listrik yg berseliweran di jalan.

“hei, kenapa diam saja, kamu takut petir ya”. Godaku ke gadis kecil itu saat di parkiran rumah sakit, dia hanya diam.

“aku takut”. Dia berucap kecil saat ibunya menggandeng nya.

“takut petir ya nak” Tanya ayahnya yg tersenyum.

“takut dengan yg merah tadi”. Gadis itu barucap pelan sekali.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s