Aldehid

Aldehid

By: danang banyu

ditulis : 14 feb 2009

Aftermoon : the billboard

Udara panas sore menyengatku kembali, lembap udara menyebapkan ruang kerja kami memerlukan pendingin ekstra, terutama di bagian percetakan belakang, dimana mesin pencetak bekerja. Kami tak mau merugi di karnakan mesin yg mengalami over heat.

Sore ini sebelum pulang ada seorang wanita datang ke percetakan, dia sepertinya sedikittidak waras, atau mungkin dia sengaja melakukan ini untuk sekedar mencari sensasi, dia akan menyewa salah satu billboard kami, menyuruhku membuatkan semacam billboard dengan tulisan.

“MINGGU INI, SAYA AKAN MELONCAT DARI GEDUNG INI”, dia mengucapkanya dengan nada berad, pertama aku pikir dia sedang bercanda, semacam lelucon penuh sensasi, tapi dari matanya terlihat kekalutan, seperti sebuah beban berat telah membuatnya mampu melakukan hal gile semacam melompat dari sebuah gedung bertingkat, tapi apakah hal ini perlu, mengundang public untuk menonton ramai ramai prosesi kematianya, dia pesti bercanda, dia pasti seorang wanita kaya yg bingung menghambur hamburkan uang dan berniat membuat sensasi.

“maaf nona, kami tak menerima lawakan seperti ini”. Aku bersikap acuh kepadanya, berharap dia merasa rencananya gagal, dan mengurungkan niat untuk membuat semacam sensasi seperti ini, karna aku tahu pasti tempat kerjaku bakal kena masalah dengan kepolisian jika aku melayani permintaan gila wanita ini.

“ayolah, ini semacam gurauan akhir pekan, aku harus membuat gurauan untuk memenangkan taruhanku dengan teman teman”. Dia memberikan senyumnya, sebuah senyum yg membuatku terpana denganya, dia begitu cantik, tapi masih terlihat sama, sebuah aura kekalutan.

“aku tak mau berurusan dengan kepolisan nona, mereka pasti mengintrogasi kami habis habisan mengenai billboard anda”.

“tenang, mereka takkan menanggapi papan iklan seperti itu, mereka lebih suka bersantai di bawah pendingin dari pada harus ber panas panas sekedar untuk mencari kebenaran akan sebuah guyonan”. Dia masih berusaha meyakinkanku.

“maaf nona, tapi permintaan nona terlalu aneh bagi kami, kami bukanya tidak mau, tapi kami harus yakin bahwa itu hanya gurauan, kami harus yakin bahwa nona tidak akan melakukan hal gila”.

“aku akan menggandakan bayaran, percayalah, ini hanya gurauanku, tidak ada yg akan terluka”. Dia mengeluarkan sebuah amplop.

Aku hanya terdiam dengan tawaran ini, begitu aneh, seorang wanita cantik mendatang kantorku dan meminta sebuah billboard, atau tepatnya pengumuman kematian.

Dia meninggalkan kantorku dengan masih meninggalkan parfum yg masih dapat kurasakan, sebuah parfum yg biasa aku hirup ketika masih bersama dia.

***

Udara malam kembali membelit tempat ku kerja, sebuah pesanan menunggu untuk di buat cepet, dia meminta untuk segera di pasang, terpakasa aku harus menkonsep desainya, karna dia sama sekali tidak memberikan desain, aku dan kedua temanku seorang lulusan desain grafis dan seorang anak baru hanya terdiam merencanakan konsep, kami seperti kehabisan akal, seprti kehabisan inspirasi, terlalu banyak konotasi untuk tuliusan sesingkat ini, sebuah pesan kematian, sebuah pesan untuk melelah, sebuah pesan yg mungkin membuat ramai massa.

“Kalian pikirkan dulu, aku mau keluar merokok”. Perlahan ku berjalan keluar kantor, menuju jalanan luar kantor yg masih penat bahkan sampai malam, jalanan masih begitu macet. Malam tropis membuat para pejalan kaki berbusana minim.

Aku terduduk di bangku depan kantorku, sebuah bangku yg biasa di gunakan tukang parker bersantai, kuhisap perlahan lahan rokok ku, sebuah hisapan dalam, dan hembusan yg panjang, aku ingin melepas penat dalam tubuhku seperti melepaskan karbon dari hasil pembakaran tembakau ini.

Aku melihat jalanan, para wanita ramai memamerkan paha mereka, para korban mode, para kaum konsumtif yg menyebalkan, aku teringat kejadian tadi sore.  Menyebalkan, kaum konsumtif yg selalu menghambur hamburkan uang untuk hal hal yg tidak terlalu penting, menghamburkan uangnya hanya untuk sebuah gurauan akhir pekan, hanya untuk sebuah taruhan. Lalu apa yg mereka pewrtaruhkan ? mereka mempunyai uang yg tak akan habis untuk di pertarushkan, atau hanya untuk sebuah kehormatan yg konyol, aku masih begitu tidak faham akan konsep ini, kuhirup rokoku pelan pelan, eku harap api in takkan pernah padam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s