Aldehid

Aldehid

By: Danang Banyu

ditulis : 12 feb 2009

penghianat

Aku masih bergerak pada satu titik, tidak berubah, hanya ber defuse dengan keadaan, akulah sang penghianat, aku berhianat kepada semua orang, kepada semua yg mempercayaiku, aku bukan seorang sinting yg terus bergerak, akulah seorang penghianat, menghianati sesuatu ntuk kesenangan sendiri, mungkin aku egois, tapi aku melakaukanya untuk hidup, kini siapa lagi yg akan tidak melakukanya ? . mementingkan pandangan subjektif nya sendiri, mengesampingkan moral dan ideologi, memilih menghianati sebelum di hianati.

Begerak perlahan, sore ini semua terasa lamban, semua terasa letih, aku terdiam dengan tubuh yg lengket oleh peluh, kamar ini terasa sangat sesak, sesak olehku dan pria yg tertidur di sampingku, dai tertidur seperti kerbau setelah mencocok hidungku, hidungku sudah tercocok dua kali. Dia berpikir dia telah menang hingga dia tertidur dengan pulasnya, tertidur seperti bayi dungu yg akan segera menangis ketika popoknya basah lagi.

Bergerak perlahan, sore ini semua terasa nikmat, semua terasa puas, semua terasa tenang, mungkin serotonin ku meningkat, lebih nikmat dari effek jowo yg selalu membuatku tertidur dengan tenang, walau kemudian aku kan terbangun dan muntah, tapi aku suka, aku suka dengan jowo, suka dengan wanita itu, dan suka akan kenikmatan ini, dan wanita ini membuatku tertidur dengan puasnya.

Bergerak perlahan, sore ini semua terasa aneh, mungkin si boss yg satu satunya tak muntah seperti kami, menikmati muntah yg nikmat, muntah yg panas, muntah yg  membakar tenggorokan, si boss  sedang nikmat ngewee dengan wanita itu, si boss  sudah menemukan candunya sore ini.

Bergerak perlahan, sore ini semua terasa pening, semua terasa aneh, semua terasa pilu, bahkan aku membiarkan wanita itu, menjadi tumbah kekasihnya sendiri, membiarkan sesuatu yg tidak benar terjadi, apakah ini benar benar sudah jaman edan hingga semua menjadi sah sah saja, membiarkan ketidak laziman terjadi, moral mungkin sudah bobrok semua hingga ini terjadi, aku hanya bisa terdiam dan tidak percaya akan apa yg aku lihat, seorang wanita cantik di gandeng oleh seorang pria cina gendut ke sebuah kamar, sedangkan kekasih wanita itu menunggu di luar bersama orang orang yg mabuk mabukan, dan yg tak bisa kupercaya aku berada dia antara mereka.

Bergerak perlahan, sore ini semua terasa membingungkan, biasanya aku melihat orang orang ketakuatan saat memasuki tempat lintah darat itu, biasanya malah orang itu di seret seret oleh anak buah si boss yg pada mabuk, hingga tak jarang ada yg menjerit jerit. Tapi kali ini aku melihat seorang wanita cantik memasuki tempat si boss dengan tenangnya, mungkin dia perek nya, tapi bagaimana dengan dua pria yg mengantar wanita itu, mereka atau salah satu dari mereka tak mungkin seorang germo, terlalu muda untuk mereka untuk menjadi germo, salah satu dari mereka lebih pantas menjadi kekasih wanita itu, tapi aku lebih dapat memasukan akal jika mereka itu hanya seorang kurir dari seorang germo, pasti wanita itu special sampai harus di antar dan di tungguni oleh oleh kurir.

***

Bergerak perlahan, aku membiarkan kelamin pria itu terbangun lagi saat tangan nakalnya kembali bergrilya, sebuah kelamin yg terlalu kecil bila dilihat dari bentuk tubuh pria yg besar dan kendor serta berlemak hampir di seluruh tempat. Aku sudah menunggu, aku sudah membiarkanya beristirahat sebentar, membiarkanya menikmati sisa orgasmenya hingga ke alam mimpi. Membiarkanya menikmati saat saat yg tak mungkin terulang lagi ini.

Bergerak perlahan, tubuhku benar benar telah termanja, aku menikamati setiap sisanya, hingga aku benar ketagihan, ketagihan bermain dengan mainan baruku, bermain dengan tiap inchi tubuhnya, biarlah hari ini tidak nge  jowo  dulu, karna ada candu yg lebih sehat dan nikmat dari pada si jowo.  hingga tak terasa kejantanan ku perkasa lagi ketika kembali memainkan tetek nya lagi.

Bergerak perlahan, sudah hamper 1 jam tidak ada suara dari dalam, mungkin mereka sudah lelah, mungkin si boss sudah bosan dengan mainannya dan membagi dengan kami, tapi apakah pria itu merelakanya lagi ? dia harus merelakan, dia sudah kalah jumlah.

Bergerak perlahan, semua terasa begitu lamban, meskipun begitu aku hanya terdiam, terdiam di antara orang orang mabuk yg mengerikan, pria sinting itu terduduk dengan santainya disampingku, dia pria sinting, membiarkan kekasihnya dikorbankan untuk kepentingan pribadinya, aku sama sekali tak habis pikir dengan apa yg mungkin dia pikirkan, dia terlihat begitu tenang, malah terkadang pria itu tersenyum sinis saat melihat anak buah dari pria yg di dalam kamar itu mulai muntah karna minuman yg terus mereka tenggak sedari tadi.

bergerak perlahan, sudah hampir satu jam pria itu dan temanya menunggu wanita itu melayani si boss,  apakah wanita itu begitu special hingga si kurir harus menunggu selama ini ? mereka menunggu bersama anak buah si boss yg masuk mabukan, mungkin saat ini mereka sudah teller, dan bila saat itu berakhir, akulah yg harus membersihkan muntahan mereka dimana mana.

***

Bergerak perlahan, tanganku sudah berlumur darah, sebuah pisau tepat menusuk tepat di bawah dagu pria gendut itu, menusuk menembus lidah dan dinding atas mulutnya. Tanganya terus meronta menjabak rambutku, darah keluar segar dari mulutnya, matanya nanar menatapku, terlihat jelas nyawanya sudah akan tergang hilang, aku terus menekan kepala nya kebawah supaya dia tidak menerkamku. Tak butuh lama pria itu sudah mulai kaku, tanganku berlumur darah anyir, tubuhku kini tak lengket oleh peluh, tapi lengket oleh darah.

Bergerak perlahan, Entah dari mana wanita itu mengeluarkan pisau, tangan kirinya tiba-tiba menekan kepalaku, dan sebuah benda tajam menembus lidahku dan dinding atas mulutku, aku tak bisa berteriak, lidahku terasa putus, darah memenuhi mulutku, tanganku mengejang menarik rambut panjang wanita itu, aku hanya bisa melihat raut ketakutan di dalam matanya, sebuah ketakutan yg menang.

Bergerak perlahan, entah dari mana sebuah pukulan telah mendarat di plipis kiriku, membuatku terjatuh, aku tak bisa mengindra apa yg terjadi, kepalaku terasa sakit, alcohol telah menghambat pergerakan inpuls di neutronku, menghambat neurotransmitter ku untuk menyadari apa yg terjadi.

Bergerak perlahan, aku bener tak percaya apa yg kini aku lihat, kekasih dari pria di sampingku itu keluar dengan bersimbah darah, tangan kanannya memeganga pisau yg merah oleh darah, aku hanya bisa melihat ketakutan di wajah wanita itu, aku tahu pasti sesuatu telah terjadi, aku terdiam ketika meliah pria itu bangkit dan mengambil sapu di pojokan, seraya ku tercengan pria itu memukul kepala orang orang yg terkapar teller di kursi, satu persatu mereka terkapar di lantai setelah mendapat pukulan telak dari pria itu.

Bergerak perlahan, aku tak percaya dengan apa yg kulihat, para anak buah si boss terkapar di lantai dengan kepala yg berdarah, lantai di penuhi darah, dan begitu terkejutnya aku, mayat si boss sudah terkapar di kamarnya, kamar yg penuh darah, kamar yg sudah berantakan di acak acak, dan satu hal yg baru aku sadar, wanita itu dan kedua pria itu telah hilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s