Aldehid

Aldehid

By : danang Banyu

ditulis : 15 feb 2009

Aldehid penghianat epilogue just the began

               

                Aku lah sang penghianat, memanfaatkan apa yg kupunya untuk mendapat apa yg kuinginkan, aku bergerak degan saling menikam sebelum di tikam, apakah itu salah ? . itu adalah sebuah system otak promotif manusia, bertahan hidup, dan aku bertahan hidup dengan menggunakan otak modern manusia. Saling menghianati.

Siapa yg salah sehingga kami harus membunuh, bukan keadaan, tapi kesalahan kami mempercayai seseorang, kepercayaan adalah sebuah bahan peledak, dimana orang yg kita percaya membawa detonatornya, menunggu say g tepat untuk meledakanya dan membuat kita jatuh dan berantakan, hingga terpakasa kami harus melakukan sesuatu yg diluar rencana, aku baru pertama melakukanya, priaku yg merencanakanya sendiri, seperti memancing memasang umpan dan mengeksekusinya, sayangnya akulah sang fisher, aku malakukan hal ganda dimana lelakiku yg menjadi guidenya, semua berjalan sangan berantakan, sangat kacau.

Seharusnya aku sudah melarikan diri ke kota lain, tapi mengingat kejadian ini pasti akan ditutupi dari kepolisian, kami masih akan merasa tenang, sebelum ada yg membalas dendam akan apa yg kami lakukan, sebuah pembunuhan sadis di tambah perampokan serakah, kami kini kaya, sebuah posisi dimana kami mampu membalik keadaan dimana seharusnya kami pada posisi terjepit tapi berbalik pada posisi yg lapang dan tak terjamah, ya, takkan ad yg menemukan data kami, karna semua akses untuk menemukan kami sudah terputus, sebuah kenyataan, tidak ada yg mengenal kami dengan baik sejak awal membuat kami mampu dianggap telah pergi.

Orang orang yg telah mengenal kami telah menganggap kami tidak ada, mungkin melarikan diri atau memang sudah mati, teman kami yg menjadi saksi juga telah kami bungkam, kami berdua hnay berhenti berfikir dan menemukan diri kami benar benar har8s menjadi de jave, dilupakan pernah ada.

***

Malam ini hujan seperti biasa, aku berada di sebuah cottage di pinggir pantai, kami sudah sepekan berada di sini, kami sudah sepekan berlibur di sini, kami sudah sepekan bercinta disini. Semua terlihat begitu indah untuk beberapa waktu ini, kami berdua bercakap banyak hal sampai pagi, kami tertidur bersama di sebuah kamar yg dipenuhi udara garam, kami menikmati deburan ombak sampai merasa lelah dan memutuskan untuk kembali tertidur bersama, kambali bercinta bersama, dan menghabiskan semua kepenatan.

“mungkin cepat atau lambat kita harus menghabisinya”, sebuah kata kata yg keluar dari mulut kekasihku ketika kami habis pusa menghabiskan tequila, mungkin saja dia mabuk, atau mungkin saja aku yg mabuk, tak mampuh membedakan siapa yg mabuk, aku pun tertidur di meja, dan tersadar di ranjang, semua berjalan tanpa kesadaran ketika pagi itu dia sudah terlihat segar, aku tak tau apa yg dia rencanakan selanjutnya, tapi dia terlihat siap untuk pergi, dia tak mengatakan akan pergi kemana semala,, atau mungkin saja dia bilang tapi aku terlalu mabuk untuk mencerna ucapannya.

Benar saja, dia pagi ini pergi, dia bilang akan membungkam mulut teman kami yg menjadi salah satu saksi dalam pembunuhan sebulan yg lalu, dia adalah pria yg baik, setidaknya apa yg dia katakan adalah sebuah moral, aku menyukai kata-kata nya yg naïf, tapi haruskah kita membungkamnya selamanya ? .

“aku tak mau mengulang kesalahan membiarkan orang lain menghianati kita, terlalu berbahaya”. dia memegang tanganku seperti saat menyakinkanku untuk melakukan pembunuhan kemarin, tapi seprtinya dia akan menahanku, begitu terlihat dari matanya.

“aku akan bersiap untuk ini”. Dai menahanku unytuk tidak berdiri.

“kali ini biar aku sendiri terlalu beresiko”. Dia menyakinkanku, aku tak tau apa yg akan dia perbuat, tapi buka sifatnya untuk iini.

“hei, kita masih partner bukan, kenapa kau bekerja sendiri sekarang ? “ tidak seperti biasanya, dia ingin bekerja sendiri, tidak seperti biasanya dia tidak mengajaku.

“aku tak ingin kau terluka kali ini, terlalu berbahaya di luar sana sekarang”. Dia menyakinkanku dengan kat kata klise yg sering kami tonton di dvd saat akhir pekan.

“kau mau mati ya, dasar bodoh, kamu bisa mati kalau pergi sendiri”. Dia hanya terdiam dan menyeringai, perlahan dia menciumku.

“don’t worry I be fine” entah apa ini, sebuah perasaan ganjil, aku hanya bisa mematung, aku tak mampu berkata lebih, aku hanya ingin dia tinggal, atau aku pergi bersamanya, tapi seperti terkunci mulut ini tak mampu berucap.

***

Pagi ini priaku pergi, priaku, kekasihku pergi, enth aku tak mampu mengira kapan dia akan pergi, dia mungkin tak mau ada kesalahan, dia tak mau kesalaham kami berulang lagi. Tapi bisakah kebahagiaan ini pergi, walau pun untuk sedetik aku tak rela, terlalu banyak yg telah ku korbankan untuk ini, hanya untuk kebersamaan yg bahagia denganya, kebahagiaan dimana tidak terusik dengan para penghianat, dimana sebuah kebahagiaan seperti itu terkadang begitu berharga untuk kami, berharga untuk diriku sendiri, dan mungkin berharga untuknya.

Terlalu banyak yg kami lewati, terlalu banyak yg kami lakukan berdua, terlalu banyak kekecewaan, mungkin ini adalah hidup yg harus kami jalani, sebuah hidup dimana kita tega melakukan sebuah pembunuhan karakter, melakukan sebuah penipuan, dan mungkin pembunuhan, ya, itulah kenyataan hidup yg kami jalani selama ini, semua berjalan begitu rapi, bahkan terkadang aku ingin menjadi orang biasa yg tak pernah tahu akan kapan dan dimana hal ini tejadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s