Aldehid

Aldehid

By: Danang Banyu 

ditulis : (10 feb 2009)

 

 Afternoon:

Seorang anak kecil tersenyum diantara duka di atas tembok siang ini, dia membawa sebuah payung hitam yg kemal, berlarian dengan riang diantara senyum sepi gadis remaja dan kawanan lalat sampah, terbelalak kita hingga terdiam diantara sunyi yg hampir hampir mati.

Masih terlalu sore hingga aku memutuskan menghisap rokok diluar, udara begitu pengap oleh macetnya jalanan, aku berdiri di trotoar jalan, tepat di luar percetakan tempatku bekerja, terasa begitu pengap hari ini hingga sebatang rokok tak mampu mengusir penat ini, jalanan sore ini begitu macet oleh berbagai kendaraan terutama bus yg begitu kejam menyemprotkan jalanan dengan kerbon dari solar nya, juga begitu penat hingga semua terlihat sama, tak ada yg kontras sama sekali, begitu pula kerjaanku di dalam, masih banyak dan bertumpuk, untunglah bagian ku sudah selesai tinggal menunggu peoses pencetakanya saja, begitu banyak pesanan sepanduk dan baliho, tak kusangka saat memulai usaha ini dulu dengan teman teman se angkatan desain grafis akan membuahkan sebuah rutinitas yg penat seperti ini, kami sama sekali tak memikirkan materi dulu, karana kami masih muda, masih suka bertualang ke hutan hutan dan gunung hijau, dan kini kami berakhir dalam part ini di sebuah percetakan yg begitu dekat atau mungkin terlalu dekat dengan pusat keramaian, yg jelas dan menjadi begitu ramai dan piñata, begitu berbeda dengan saat kita masih menikmati dinginnya ranukumbolo di jawa timur beberapa tahun yg lalu.

Paru paru ku sudah pengap oleh asap rokok tapi fikiran masih pengap oleh karbon, mungkin akulah yg bodoh mengusir karbon dengan karbon. Seharusnya aku hari ini sudah libur dan menyempatkan diriku kembali ke kampung, sudah terlalu lama sejak percetakan ini ku bangun dengan keringatku dan keringat teman teman seperjuangan yg memutuskan mnembuka usaha sendiri setelah gagal di terima di beberapa perusahaan. Kami akan tetap menjadi sekumpulan sarjana pengangguran kalau sore itu kami tak sengaja berkumpul ke UKM tempat kami dulu, entah dari mana hingga semua ini terwujud, bukan suatu hal yg ingin aku fikirkan terlalu lama, bukankah hidup memiliki porsi masing masing, tak perlu menangisi apa yg bukan rejeki kita, dan tak perlu bersombong hati akan apa yg sudah kita punya.

Udara sore jingga hingga awan berarak kelabu, sore ini semua terlihat merah, terlihat marah, terlihat suram, persisi seperti film film horror. Jalanan begitu merah, merah oleh cahaya 450 nano meter matahari, aku harap ini tak akan lama, begitu pula dengan langit, berwujud merubah menjadi gelap, hingga semua terlihat bersih, hanya warna jingga yg perlahan menghilang termakan waktu yg membuatnya malam. Aku lebih suka cahaya dengan panjang 500 nano meter.

Aku masih di trotoar jalan, duduk di sebuah bangku yg terbuat dari bambo, sebuah pohon menemani bangku ini. Beberapa orang melewati ku dari belakang tanpa melihatku, ini sudah rokok ke 5 saat lamunanku terpecah oleh sebuah bintang di langit, aku sudah terlalu jarang melihat bintang, mungkin memang tak pernah, tak ada bintang di kota ini, yg ada hanya bintang mimpi yg di sinari oleh blitz dari kemera, entah itu SLR ata DSLR, dan entah itu dari seorang wartawan berita, infotaimen, atau hanya seorang paparazzi.

Aku sudah terlal jarang melihat bintang, mungkin saja memang tak pernah melihat bintang. mungkin Langit sudah tak mau menampungkan bintang untauk di nikmati oleh orang orang seperti kami lagi, mungkin langit menganggap kami tak pantas,  apakah langit memiliki patokan harga untuk menilai suatu hal menjadi pantas ? . mungkin , karna terakhir aku melihat bintang ketika berada di kampong halaman, sebuah tatanan bersawah membentang di kiri rumahku, ilalang masih tegak mebuat kamuflase untuk anak anak kecil yg sedang bermain riang di sana. Aku masih ingat itu, berlarian di antara ilalang bersama seorang gadis dari masa laluku, seorang gadis yg sudah tak pernah kulihat sejak terakhir aku memutuskan pergi ke kota, mungkin orang orang dikampungku masih melihat bintang bermunculan sekarang, mungkin mereka tetap bertahan di kampong karna bintang masih setia bersama mereka sekarang. ah, kenapa semua ini berjalan begitu cepat, berjalan begitu linier, dan begitu saja, bukankah hidup itu seharusnya kuadrat ? . hingga membentuk puncak dan lembah di sumbu kartesiun. Tapi entah kenapa saat kita berada di titik ujung, semua terasa begitu linier. Bahkan saat saat tersulit dalam hidup berjalan menjadi kenangan. Mungkn benar kata pak ustad ku dulu waktu kecil, sesuatu yg paling jauh dari kita adalah kenangan, adalah masa lalu, adalah suatu waktu yg tak mungkin di ulangi lagi, suatu ketetapan alam, bahkan fisika kuantum pun masih tak mampu menembusnya. Masih di bebani oleh masa yg bertambak ketika kecepatan meningkat, masih terbelenggu oleh rumus rumus yg menembok dan menghalangi mereka menuju ketidakmungkinan, begitu juga aku, aku tak mungkin kembali ke masa dimana seorang teman di SMA ku mengajariku merokok, hingga kini aku tak mampu berhenti merokok, aku tak mampu mengatasi penyakitku, mungkin satu satu nya yg bisa mengobati ku adalah dewa dari neraka yg menyembuhkan penyakit john Constantine. Aku ingin di sembuhkan sepertinya, tapi itu hanya film aku tak mungkin benar benar mengikutinya.

“aku ingin pulang”

Kta kata it terus mengiang  di antara kepalaku, melompat lompat di antara jembatan varol otaku, melompat liar menuju pusat keseimbanganku, sampai terhenti di pusat kesadaranku.

“kemana kau harus pulang ?”

Bukankah tempat ini adalah rumahku, lalu kemana aku harus pulang, kemana keinginan untuk pulang ini tersalurkan, aku sudah tak punya rumah lagi, selain tempat ini dan.

“aku tak mungkin kembali ke kampong halamanku, tidak, tidak untuk sekarang”

Aku kembali melihat ke langit, aku lebih suka melihat langit walaupun bintang telah pergi, lebih suka dari pada melihat ketidak kontrasan di jalanan. Ketidak kontrasan di papan papan iklan di jalan, semua kini terlihat sama, tidak seperti beberapa tahun yg lalu. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s