unwillingness to dance (incognito : anas side)

DSC02818

“sial, rokok ku habis”, aku mengeluh ke lutfi pagi ini, hari ini kami melakukan pengintaian di kantor suami nya sari, sejak lutfi adalah pemain forex, dia selalu memiliki waktu untuk pekerjaan kotor teman temannya, termasuk membantu menjualkan senjata api ilegalku.

“disebelah ada minimarket, kesana aja nas”, lutfi berbicara sambil terus melihat lilin-lilin chart di laptopnya.

“ide bagus bro, sejak kamu milih untuk stay di coffe shop yang gak jualan rokok, dan aku haru keluar untuk membelinya”, aku mengeluh.

“plus, disini memang ruangan bebas asap rokok”, lutfi masih sibuk melihat laptopnya, seperti mahluk tak berdosa dia memilih tempat yang sudah tidak menjual rokok, dan dilarang merokok.

“bagus sekali”, aku melengus, sambil melihat kantor koran di depanku.

“oiya, latte ku habis, mau pesen lagi?”, tanya lutfi kepadaku.

“secangkir ekspresso, dan pancake”, aku menidurkan kepalaku ke meja sambil melihat ke kaca, sebuah kios koran, dan membayangkan kalau aku disana, dan merokok, sambil melihat gadis-gadis yang lewat.

“okey, i will get you that”, ucap lutfi cepat, langsung ke counter.

kantor punya suaminya sari sebenarnya cukup besar, dengan banyak karyawannya yg keluar masuk, dan coffe shop ini sebenarnya menjadi salah satu tempat nongkrong para wartawan, dan karyawannya, jam 8 pagi disini, suasana sudah lumayan ramai, tapi rata rata mereka take away, dan tidak banyak yg memutuskan untuk makan atau minum disini, kecuali para pemburu wifi seperti lutfi, dan beberapa gadis di sebelah mejaku, dan seorang gadis yang duduk sendiri di meja pojokan, dia wanita yang cantik, dan dia memiliki ukuran cup yang lumayan, dan cantik, kepalaku yang kurebahkan di meja sejurus memandangi gadis di pojokan itu, sampai entah sejak kapan, dan mungkin dia mulai menyadari ada yg memperhatikan, dia melirik ke arahku, sial, secepat kilat dan dengan kikuknya ku alihkan pandanganku ke arah lain, dan tubuh kurus itu di depanku, lutfi sambil membawa latte nya.

“pancake sama ekspresso mu ntar di antar”. lutfi berbicara dengan santainya sambil kembali ke tempat duduknya dan sibuk dengan laptopnya.

“kenapa benda ini namanya laptop?”, aku bertanya sesuatu yg tidak penting untuk mengobati kikuk ku tadi.

lutfi memiringkan kepalanya sambil meliriku,” kamu gak papa nas? bukanya kamu punnya sertifikat dari microsoft, ngapain tanya gituan”, lutfi kelihatanya menyadari ada yg salah.

“kagak, kagak”, aku tersenyum besar ke lutfi, dan di saat itu aku sadar kalau lutfi sudah menunggu penjelasanku.

“okey, lihat cewek di pojok sana?, montok dan cantik ya”, bisik ku ke lutfi dengan posisi tubuh agak di condongkan ke depan, dan telapak tangan kiri memberikan cover kalau kalau ada yg berusaha membaca gerak mulutku.

“oooooo.. i see, oiya, itu kira-kira cup nya berapa ya”, lutfi mulai terpancing.

” melihat tubuhnya yg agak ramping, dan itu nya yg sangat menonjol mungkin di antara 38 dan cup nya kira-kira B”, aku memberikan penilaianku.

“hahaha, tetep aja bejat ya kamu”, lutfi tertawa sambil melihat chart di laptopnya, “eh, ini si erwin sudah ke rumah mertuanya sari”, lutfi sambil men check yahoo massangernya.

“baguslah, itu anak kerja nya bener, gak cuma makan aja”, aku berkomentar sambil berusaha mencuri curi pandang wanita itu dengan menggunakan refleksi dari hape ku, sampai.

tiiiiiiitttttttt ttiiiiiitttttt tiiiiiiiittttttttt…. sial, pacarku menelphone di saat yng tidak tepat.

“halo sayang, ada apa?”

“yang, nanti sebelum balik ke workshop, kamu beli ke toko pertanian dulu ya”

“ha? ngapain? kan kita gak punya kebun”

“buat beli bahan, kalau aku ambil dari toko terlalu mahal, soalnya di toko potasium nitrat adanya yang PA, yang teknis habis”

“emang apa bedanya, sama sama aja kan”

“bedaaa, udah nanti kamu beli yg merk traktor pak tani, bentuknya granula, butir butir putih lah”

“butiran? berarti perlu di bubukin donk?”

“iya, kan tinggal di blender”

“waittt, blender ? aku adanya coffe maker, jangan di pakek, ntar aku ngunyah biji kopi” aku merengek.

“hahaha, kamu kebanyak kopi tuh, sampai badan kurus, udah, pake itu aja ya”

“gak mau, beli yg pa aja udah, gak usah yg di blender-blender”

“hahaha, udah, tenang malam jemput kerumah berarti, ambil ball milling, kita pakek itu buat bikin bubuk nya”

“okey, ntar siang deh tak beli”

“okey sayang, see you tonight”

aku mematikan telephon yang langsung di samber pertanyaan sama lutfi, “kamu masih nerima order gituan?”.

“iye om, kenapa, ada orderan lagi ya?”.

“ada, tapi kali ini gak mirip senjata api, tapi lebih ke senjata api yang tersembunyi gitu, dan yang pesen aku kenal”.

“dia bisa dipercaya gak? kamu gak pakek anonim donk?”.

“dia om ku sendiri nas, dia sesuatu untuk melindungi dirinya, dan tau sendiri kan om ku itu hipster, dia pingin dalam bentuk tongkat jalan”.

“okey, tapi untuk jarak dekat berarti?”

“iye, isi 3 peluru aja, dan harus anti malfungsi” lutfi menjelaskan.

“pancake, dan ekspresso, maaf menunggu lama”, seorang gadis datang sambil membawa pesananku.

“terimakasih banyak”, aku tersenyum sambil melihat wajah gadis itu yang make up nya masih baru dan terlihat membuatnya menjadi tua.

aku mulai mengoleskan butter ke pancake, “oke, besok bakal tak kerjakan, nanti aku kirim email ke kamu bluprint versiku, atau kamu punya versi sendiri?” aku bertanya sambil mulai memakan pancake.

“oke, kirim aja nas, nanti tak konsultasikan ke om ku”

“tapi inget fi, om mu tidak tahu yang membuat itu aku kalau besok ada masalah, dan sama seperti product ku yg lain, kamu juga tidak tahu kalau aku yg membuatnya, oke”, aku melihat lutfi untuk menunggu konfirmasi.

“oke, tenang saja, masalah harga?” lutfi bertanya.

“masalah harga besok sekalian aku kirim bebarengan bluprint nya”

“hei nas, cewek yang tadi mana?” lutfi menanyakan cewek yang duduk di pojokan.

“ha? oiya ya, mana ya dia, yaahhh”, aku memtutar kepalaku ke seluruh coffe shop, dan nihil.

“hei, itu dia”, lutfi menunjuk ke luar seorang pria, ya itu suaminya sari sedang berdiri di depan kantornya, seperti menunggu seseorang.

“oiya, itu kan suaminya sari”, aku mengeluarkan foto yang aku dapat dari facebook nya sari”.

lutfi mengambil kunci motornya di meja, “nas, kamu check nih chart nya, kalau ada perubahan  kamu kabari ya”, lutfi menyerahkan forex nya kepadaku untuk mengawasi, dan sepertinya dia akan mengikuti suaminya sari.

“kamu berangkat sendirian? aku ikut”, aku mengambil kunci pick up ku.

“gak usah, pick up mu bakal susah ngejar, dan kalo kamu berangkat juga, gak ada yg mengawasi forex ku”.

“lalu aku bisa mengeksekusi donk kalau ada pergerakan”, aku bertanya.

“kagak, kamu cuma ngabari, aku yg eksekusi via mobile, kan aku gak bisa ngawasi sambil jalan, kamu kan ada janji juga sama pacarmu”, lutfi menambahi.

secepat kilat lutfi bergerak dengan jaket kulitnya, menuju parkiran, dan aku baru sadar cara melihat chart forex tadi gimana ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s