unwillingness to dance : caravan(lutfi side)

“faaakkkk, trus kita apakan mayat ini nyeettt”, erwin meneriakiku, dan benar, apa yang akan kita lakukan dengan mayat suaminya sari ini, walau kepalanya melededak dan menyumbangkan darah kewajah dan kemeja biru ku, kini aku harus berfikir untuk menyembunyikannya, dan kampretnya, kepanikan erwin jurstru membuat otakku tidak bisa berfikir sama sekali.

“kita kubur disini”, anas mengeluarkan ide, ida yang, “bodoh, kalau dikubur disini polisi bakal nyari orang hilang terakhir di tempat-tempat yang biasa dia datangi”, erwin menyambar.

“lalu di apakahn coba? di kremasi? di mutilasi?”, anas mulai ikutan panik dengan nada yang agak naik, tidak seperti anas yang biasanya kalem.

“okey, tenang bro, apakah ada yang tahu suami nya sari ada disini? dan kita disini?”, aku bertanya.

“maaf lutfi, kita bertiga kesini, mungkin hanya Tuhan yang tahu, tapi kalau apakah ada yang tahu dia ada disini, maaf, DIAA SUDAAHH JADII MAYATTT !!! apakah aku harus tanya ke dia yang kepalanya sudah meledak berkat pistol buatan mu nas”, erwin terlihat strees, dan mulai menyalahkan anas.

“win, dia menyerang lutfi, dan aku pakai pistol itu hanya untuk menggertak, dan maaf kalau DIA TERNYATA BISA KARATE, dia hampir meledakkan KEPALAKU, dan terimakasih datang di saat yang tepat, kalau kamu datang lebih awal kamu bisa membantu!!”, anas terpancing kemarahan.

“iam sorry, kalian yang tiba tiba mengabari datang ke villa pribadi yang aku tidak tahu jalannya, dan aku harus nyasar berkat gps bajingan itu, dan itu salahku, ok, i take that, but please, you just FUCKED nas, disini ada mayat, dan kita harus apakan? mungkin kalian harus hapus sidik jari kalian dan kabur dari sini, tapi itu akan tidak perlu dilakukan kalau kalian tidak membunuh PRIA ini !!!”, erwin benar benar marah.

“guysss, stop !”, aku berteriak, “ini kecelakaan, pria ini menyerangku pertama, dia membuat kami mengikutinya kesini, dan tiba tiba dia muncul di depan mobil kami, mengajak kami masuk ke villa nya, dan anas menyetujuinya, dan kami pikir akan hanya percakapan biasa, sampai tiba tiba dia mulai menyerang kami”

“what? kalian pasti berbicara sesuatu?” erwin memancing.

“ya, anas bilang kami temannya sari”.

“faakkkkk. bloody idiot”, erwin menendang kursi untuk melapiaskan kemarahannya.

“no, ini menarik, kenapa dia menjadi berubah ketika dia tahu kita kenal istrinya, apa mungkin dia menyembunyikan sesuatu, atau dia tidak suka kalau ternyata istrinya menyuruh temannya untuk menguntitnya”, aku menjelaskan.
tiba tiba suara mobil datang, dan membuat perdebatan kami berhenti sejanak, dan sialnya kami tidak berencana untuk menyembunyikan mayat yang sudah menyumbang darah banyak kelantai, dan kaki kami terlalu berat karna jantung kami sudah kayak ditendang mau lepas, dan sialnya kami bertiga sama sekali tidak bereaksi, sampai suara orang akan membuka pintu dan erwin berdesis “sembunyi”.

***

“sekarang kita harus bagaimana??!!”, anas berbisik kepadaku.
“i dont know, kita punya mayat, dan satu orang sandra, jadi mungkin kita sedang apas, dan faaakkkkkkk”, aku berteriak tertahan, aku dan anas terduduk di sofa depan sedangkan erwin yang sukses mengikat wanita itu di ruang sebelah dengan mulut terlakban dan mata terlakban.
“apa kalian kenal wanita itu? apa dia sempat melihat wajah kalian?”, erwin datang dari kamar sebelah.
“tidak, we safe, tapi kini mayat ini punya saksi” anas berbicara.
“mayat ini mungkin punya saksi, tapi apa yang saksi itu lakukan disini? wanita itu bukan sari, atau mungkin dia ada affair dengan suami nya sari? kalau iya, dia tidak akan bersaksi”, aku berspekulasi.
“dia tidak mungkin bersaksi? omong kosong, bagaimana kalau dia teman/sodara, kita tak mungkin bertanya kepadanya bukan, kalau memang dia selingkuhannya suaminya sari, dia juga tidak akan mengaku”, anas membalas.
“mungkin dia akan mengaku?” erwin seperti memikirkan sesuatu.
“apa maksudmu?” anas bertanya.
“nas, sini aku pinjam pistol mu”, erwin mengulurkan tangannya untuk meminjam pistol, dan anas memberikan pistolnya, dan dengan cepat aku bertanya.
“wwoooooww, mau apa win kamu?? kita sudah cukup punya satu mayat, jangan coba coba nambahi lagi”, aku mengancam.
“releks, leave it to me”, erwin mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah balaclava, dan mengenakannya, lalu pergi ke ruangan sebelah, aku dan anas mengikutinya.

***

erwin melepas lakban di mulut wanita itu, dan ketika akan membuka lakban di mata wanita itu aku baru sadar..
“stooppp stooppp.. jangan dibuka matanya, apa kamu mau dia lihat wajah kita”, aku berbisik ke erwin.
“what?”, erwin melihatku seperti jengkel, kini hanya dia dia yang pakai balaclava, dan sepertinya dia sengaja memakaninya untuk adegan ini, dan terpaksa kami hancurkan karna kamin tidak punya balaclava, yang berakhir dengan erwin membuka balaclavanya.

“jangaann bunuuhh akuuu, aku mohooonn”, suara wanita itu seperti benar benar ketakutan, dan merengek memohon belas kasihan, dan sayangnya dia memohon belas kasihan kepada idiot yang tidak tahu memegang pistol dengan benar.

“aku tidak akan membunuhmu, kalau kamu mau bekerja sama dengan baik”, erwin memberatkan suaranya supaya tidak dikenali, aku dan anas dibelakangnya saling tatap, dan terdiam.
“iyaa, aku bakal ngelakuin semuanya, jangan bunuh akuu”, wanita itu masih ketakutan, dan sepertinya akan banjir air mata kalau matanya tidak kami lakban.
“siapa kamu” erwin mulai mengorek informasi.
“jangann bunuhh sayaa”, wanita itu tidak menjawab dan masih ketakutan.
“aku tanya SIAPA NAMA KAMU !!” erwin mulai berteriak sampai tiba tiba pistol yang dari tadi dia bawa dalam posisi menodong meletus dan berhasil membuat kami kaget dan.
“aaaaaaaaaaaaaaaa…. ampuuunnnn, anggiiii, anggiii, nama saya anggiii,, jangan bunuh sayaaa”, pistol itu meletus dan tepat 10 cm di samping kiri kepala wanita itu, dan saat itu juga erwin melihat anas dan menggerakaan bibir untuk berkata.
“WATEFAAKKK”, erwin berucap tanpa suara.
“safety”, anas mendekati erwin dan mengambil pistolnya untuk kemudian memasangkan pengamannya, erwin tidak tahu tentang pistol dan secara tidak sengaja membuka pengaman pistolnya yang berhasil membuatku sakit kepala membayangkan wanita itu juga ikut ikutan meletus kepalanya, aku memutuskan untuk kembali keruangan sebelah untuk menurunkan ketegangan, dan membiarkan erwin dan anas mengatasinya.

***

“jadi teori mu benar fi, dia wanita selingkuhan pria itu”, erwin berbicara sambil menyetir di sampingku.
“lalu kenapa kita mayat kita apakan? dia tentu tidak akan bercerita, kalau kita kubur disana semua sudah beres”.
“aku gak bisa ambil resiko, dia kita ikat divilla itu dengan simpul sederhana, dia akan menyadari kalau tidak ada mayat, dan dia akan pergi dengan lebih tenang, dan menghilang”, erwin menjelaskan.
“jadi kita ambil mayatnya, dan aku asumsikan mayatnya kita buang, dan kita ambil karpetnya, dan kita buang juga, kita bersihkan semua sidik jari kita, dan semua kamu taruh di pick up nya anas, aku harap malam ini tidak ada yang menyadari apa yang ada di belakang pick up itu”
“tenang, aku baru ingat cara menghilangkan mayat yang tepat”, erwin hanya melihat kedepan.
“i dont know man”

***

“kita buang ke laut???”, aku tak percaya dengan apa yang ada dipikiran erwin.
“yes, kita buang ke laut”
“tapi mayatnya akan mengambang”, aku mulai meragukan metode yang dilakukan erwin.
“no, mayat mengambang ketika berat jenisnya lebih rendah daripada air laut, makanya kita ikat dengan besi tua, dan karpetnya sekalian”, anas menambahi.
“true”, sialnya mereka benar.
“dan untuk double check, tubuh manusia menggembung ketika menjadi mayat karna bakteri di usus, makanya kita robek perutnya, supaya nanti dimakan ikan juga”, erwin berkata sambil mengambil pisau di dasboard mobilnya.
“i cant belive this..”, aku mulai limbung, “aku gak bakal melakukannya”, aku angkat tangan, sebelum erwin menawariku pekerjaan kotor ini.
“come on, apa aku juga yang harus melakukannya??”, erwin mulai ragu.
kita akhirnya mengambil mayat pria itu yang dibungkus karpet, dan di ikat di sebuah besi bekas yang ada di pick up nya anas, dan meletakannya di pinggir dermaga, malam sudah sangat larut, tidak ada siapa siapa cuma kita bertiga, dan erwin memebang pisaunya, aku dan anas cuma melihatnya dari belakang.

“come on”, erwin berbisik kepada dirinya sendiri, yang sayu sayu dapat kita dengar, dan angin laut malam itu benar benar membuat kami ragu untuk melakukannya, ragu kalau besinya kurang berat dan mayat itu ditemukan besok, atau suatu saat ketika kapal berlabuh, jangkar kapalnya menarik mayat itu secara tidak sengaja, atau apa, dan bayangan bayangan itu berdatangan.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”, erwin menusuk perut mayat itu, dan tidak banyak darah yang keluar, mungkin darahnya sudah membeku, dan akhirnya kita bertiga bersama sama membuang mayat itu di dermaga, dan tenggelam di air laut yang gelap.

aku hanya terdiam.
mereka berdua terdiam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s