kebakaran hutan?

“katanya pecinta alam, tapi kok bakar hutan?” seorang anak muda berteriak seperti itu di antara sabana yang terbakar bulan lalu, dan menghabiskan abu hitam.

aku hanya melihatnya, dengan banyak hal yang ingin aku ungkapkan, dia naif, dan dengan tingkat hygine nya yang terlihat tinggi, dia bukan pecinta alam, atau mungkin masih baru, tiba tiba Rudy datang sambil membawa botol air, dan duduk di sebelahku yang dari tadi istirahat di bawah pohon.

“kenapa nyu?” Rudy bertanya.

“tadi denger gak yang anak dari rombongan tadi bilang?” aku bertanya.

“yang tentang kebakaran ini ya?”

“yeah, naif”.

“sebenernya aku setuju sih sama anak tadi, pecinta alam kok bakar hutan, tapi cuma caranya aja yang norak, caper”, rudy meminum air di botolnya.

“kalo menuruku, kebakaran hutan ini punya banyak penyebab, dan dengan menjudge salah satu sekumpulan orang, jelas gak fair, kebakran hutan bisa datang dari petir, atau musim panas yang membuat semua kering, dan cahaya matahari yang di melewati air dalam botol bisa memicunya juga, walau faktor manusia jadi penyebab utama”, aku berceramah.

“nah itu, botol juga kan dari manusia yang ngebuang sembarangan, dan bikin api yang tidak dimatikan dengan benar”, rudy menambahi.

“tapi itu kan orang pada umumnya, bukan pecinta alam, atau mungkin cuma pendaki biasa, atau arga lokal, kenapa warga lokal tidak pernah disebut, toh mereka juga wreakless”, aku menambahi.

“thats thrue, di daerah bromo banyak warga lokal jualan edelweis, dan dibiarin, nah kalo kita ambil sendiri, di bully habis-habisan, dan di beberapa daerah kalo ketahuan, ya di suruh balik ke puncak buat balikin”, rudy menambahi.

“nah, dan kita yang cuma suka naik gunung dicap jadi pecinta alam, yang langsung tanpa persetujuan kita di tempeli dengan kode etik, selain itu, kenapa kita seperti tidak suka dengan kebakaran hutan?”

“pertama, karna kita ke gunung, kita di anggap mencintainya, walau beberapa orang naik gunung untuk olah raga, dan cari duit, dan untuk kebakaran itu, mereka suka melihat sesuatu yang hijau, indah, dan tidak ber abu debu seperti ini, kalau itu menurutku”, Rudy menjawab.

“that the poin rud, kita suka sama yang hijau dan indah, dan ketika kita berharap naik gunung untuk melihat itu, dan kita tak mendapatkannya, kita akan mencerca, padahal hijau, atau hitam, menurutku sama saja”.

“maksudnya?”.

“tanaman tumbuh, menciptakan klorofil, dan tumbuh tinggi dengan menggunakan energy, karbon, hidrogen, oksigen, dan semuanya yang intinya, adalah energy, ketika mereka terbakar, terjadi reaksi kimia yang mengubah karbon dalam tubuh tanaman menjadi karbon di udara, dan residu dari glukosa dan air yang ikut menguap”.

“lalu nyu?”.

“semuanya adalah penyusun energy, dan kamu ingat hukum kekekalan energy?”.

“energy tidak bisa di buat dan dihancurkan”, Rudy melihatku, seperti melihat arah pembicaraanku.

“yup, tanaman hijau itu tidak hilang, cuma mengubah energy nya, suatu saat dia akan kembali menjadi hijau, itu cuma perputaran, hanya kita terlalu egois untuk menyadarinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s