Nescafe Classic : si klasik yang tetap eksis di tengah perang kopi instan

waktu masih kecil, pasar untuk kopi instan masih sangat kecil, dikuasai oleh kopi kapal api bubuk yang bukan benar benar instan (karena masih perlu diseduh dengan air panas dan diberi gula+creamer) kemudian muncul lah Nescafe klassic dengan tagline tanpa ampas di awal taun 2000an (Author ngomong sekenanya berdasar pengalaman, kalau sebelum tahun 2000an sudah keluar, ya minta koreksi) yang menjadi nilai plus karena saat itu kapal api masih dipenuhi ampas seperti kopi sangrai sendiri.

 

Kemasan Nescafe klasik sendiri dulu dalam kemasan toples kaca kecil yg dibundle dengan creamernya, nah mulai dari tahun itu perang kopi instand dipasaran dimulai dan mengalami uncakya di tahun2010 an, kopi instan dipasaran sudah sangat  banyak sekali, bahkan setiap brand mengeluarkan banyak variasi, dan menawarkan banyak sekali kelebihan dan kekurangan.

 

pengalaman dan pengamatan author, sendiri hal yang menjadi tolak ukur kopi instan sebenarnya adalah harga, rasa dan tingkat keasam, walau author sebenarnya jarang minum kopi instant, tetapi sekali kali nyoba yang menggunakan creamer nabati, efeknya suka bikin kencing jadi bau, jadinya Author paranoid sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali ke kopi hitam racikan nya angkringan nya Pak-No yang sering buka di dekat jembatan sukarno hatta Malang, sampai suatu ketika tahun 2012an saat Author ke semeru di sebuah rest area, pengelolanya menyediakan nescafe klasik sachet, gula, dan air panas yang free tapi nyeduh sendiri, ya karan mental mahasiswa jadinya sikat aja dan di sruputan pertama ini yang terjadi yang membuat author terbelalak kaget luar biasa.

 

Author terdiam sebentar saat setelah menyeruput kopi nescafe klasik sachetan yang gratis itu, memory si Author seperti disleding kembali ke masa masa lalu tahun 2000an, dimasa dari masa itu si author memang ga pernah minum nescafe klasik lagi, dan memang benar benar masalah rasa tetep alias sama gak berbeda dan gak berubah, sama, tingkat keasaman nya, pahit pahitnya sama dan kemudian Authot selalu sedia Nescafe klasik sachetan di kos, di rumah, dan dimana mana.

 

Author lebih suka yang sachetan karena kalau yang isi gede si granolanya suka lembab dan akhirnya lengket kayak susu bubuk, dan karena si Author kebetulan anak Pangan, akhirnya dia suka nyampur si Nescafe klasik dengan semua minuman yang sekiranya cocok kali diseduh pake kopi, baik panas apa dingin, karena Nescafe klasik sendiri dibuat dari kopi yang sudah di exstract jadi air kopi yang disaring trus di dehidrasi pake freze dry, makanya jadi granola (cmiiw) jadinya kalo dicampur sama air dingin gak papa, karean kandungan asam nya sudah medium.

 

jadi, si Author suka nescafe klasik bahkan ditengah banyaknya kopi instan yang luar biasa banyak dan bikin orang bingung mana yang enak, plus nescafe klasik murah udah

Advertisements

unwillingness to dance

jadi apa yang kamu harapkan dari sebuah coffee shop franchais yang sudah ada disetiap sudut kota dan bahkan disetiap kota besar di Negara ini ada? generic coffee ! ya kopi yang rasanya sama dengan yang kamu rasakan setiap hari dari kedai kopi pinggir jalan yang banyak ada di jogja, apa itu namanya

Angkringan?

ya angkringan, kalo boleh dibilang sama saja, mereka sama sama dari kopi, dan kopi prmium itu juga berasal dari jawa, dari kebun PTPN, atau dari petani lokal yang dengan kearifan lokal para pedagang angkringan itu meramu kopi mereka sendiri dengan filler seperti ketan, jagung dan bahkan kakao, sama seperti kopi thailand yang juga nge campur kopinya dengan jagung, dan kalau masalah rasa lebih enak daripada kopi murni 100%, yang cita rasa nya cuma main brewingnya

 

Unwillingness to Dance

pagi ini hujan seperti biasanya, kota ini sudah mulai menunjukan sakit yang cukup lama, hujan yang dari malam membuat jalanan menjadi banjir dan macet, genangan dimana mana dan penataan kota yang amburadul, untungnya tempat tinggalku tidak jauh dari sebuah coffee shop yang membuatku hanya berjalan selama 15 menit untuk sampai di sudut coffee shop ini, dengan ojek online tentunya, ya tidak ada yang benar benar dekat sekarang disini, bahkan untuk perjalanan sejauh 1 km terkadang kita menghabiskan 30 menit, gila.

Seperti biasa, aku duduk di dekat jendelan pojok coffee shop, sebuah benteng yang sepihak aku gunakan sebagai office pribadiku entah sejak kapan

Ali Manager coffee shop pun datang menghampiriku sambil membawa pesanan Americano panasku, sejak aku menjadi reguler costumer coffee shop ini manager coffee shop ini pun sering meluangkan waktu untuk ngobrol denganku disaat store nya dalam keadaan sepi.

“sibuk nih pak?”, Ali menaruh gelas Americanoku disamping laptopku

“Ah, enggak pak, cuma nge check email, tumben shift pagi, biasanya malam terus”, Aku membalas teguran Pak Ali sambil meliriknya dengan wajah masih menghadap laptop.

“iya nih Pak, Bu Yuli yang biasanya pagi lagi sakit, jadinya saya yang backup”, pak Ali membalas sambil duduk di kursi depan mejaku sambil mengawasi kondisi store nya yang masih lengang.

“longshift nih berarti”

“iya pak, kapan lagi pagi-pagi, oke pak saya tinggal dulu” dia tersenyum sambil berjalan meninggalkan ku dengan laptop dan Americano, sebuah espresso encer yang tidak akan aku minum sebelum dia menjadi dingin.

pukul 9 pagi.

hujan mulai reda, coffee shop ini mulai kembali ramai dipenuhi oleh costumer, dan akupun kembali dengan pekerjaanku sampai sebuah pesan masuk ke emailku

 

Banyu <Banyu9087@gmail.com>

Lampiran1 Jan
ke saya
 Dear Andy
Temui aku di Malang secepatnya.
tiket dll ada di attachment
best Regard
Banyu

 

 

 

 

 

eh jadi gini

eh jadi gini.

 

kalau boleh jujur, udah hampir tahun kemarin ada keinginan untuk nulis, bukan cuma nulis di blog tapi nulis buku, bukan buku how to tapi ya lebih ke novel, bukan novel remaja yang penuh cinta yang membuat kita jadi ingat akan kenangan kenangan yang sungguh indah dimasa muda kita tetapi lebih ke novel tentang quarter life crisis, ya krisis hidup di umur 25 tahunan, dimana disitu kita akan memutuskan untuk menikah, settle disebuah pekerjaan, dan mungkin memutuskan untuk punya anak, sebuah masa-masa yang akan dipenuhi oleh transisi yang akan diikuti oleh transisi-transisi lain yang mau gak mau harus kita jalani.

 

 

buat buku ya jadinya, tapi kalau mau bikin buku kudu bikin apanya dulunya ya, maklum, cuma blogger yang nulisnya gak pernah ada struktur, ndlujur aja

 

 

Belajar ilustrator

jadi setelah instal adoe ilustrator, saya kyaknya minum pill pahit, karena mulai dari SMA saya tidak mau belajar vector dengan photoshop, saat itu kayaknya saya liat vector art kayak art yg aneh, dan sampai sekarang saya lebih prefer menggunakan goresan tangan atau sketch, tidak serapi dengan vector sih, tetapi tetap bisa dibuat rapi, serta proses pembuatanya pure skill gambar, bukan penguasaan teknik tool-tools yang banyak dan ribet, sampai sekarang pun saya masih kikuk menggunakan pan-tools, walaus sering pakai photosop, tapi jarang menggunakan pen tools, biyasanya menggunakan lasso.

 

Dari postingan ini dibuat, tercatat baru kemarin sore saya mulai belajar menggunakan adobe illustrator, dan hasilnya sangat membuat jengkel

 

Untitled-1Untitled-2

Takziah

sketch 1.png

kita takziah di keluarga sebelah kampung, bapak nya besan nya tante meninggal, kita harus datang karena memang masih saudara, dan kamu kan waktu kecil pernah sering main kesitu sama mbak Yanti, kamu paling suka mangga di depan rumahnya sampai kadang mbak Yanti kerumah sambil bawa mangga sekardus.

Aku terdiam sejenak mendengar berita tersebut, yang teringat di memory ku bukan wajah atau siapakah beliau yang meninggal, ingat? sama sekali tidak ingat, yang aku ingat hanyalah pelataran rumahnya yang masih dari tanah, dan suasana kampung yang tenang, tanpa pikir panjang akupun  bersiap untuk ikut Takziah, disepanjang perjalanan aku hanya terdiam samar sama mengingat jalan menuju rumahnya, karena sejak klas 3 SD aku sudah tidak pernah kesana.

 

Aku hanya terdiam melihat orang orang bercerita, hanya bersalaman, dan diam aku melihat pelataran rumahnya, aku tak mampuh berkata apa apa dimana banyak orang yang melakukan Takziah, sedangkan aku hanya seperti anak kecil yang diberi ingatannya kembali, banyak hal yang pelan pelan berusaha aku masukkan kembali, cuma memang apa yang sudah terlalu lama tidak diingat dan tiba tiba muncul lagi di depan kita, seperti dejavu cuma kamu tau itu bukan dejavu.

 

Melihat, wajah anak anak nya yang terlihat tegar, bahkan sekali dua kali tersenyum, aku melihat raut wajah seorang yang sudah dewasa, yang ditinggal ayahnya yg sudah berumur 93 Tahun, bahkan aku masih ingat memoryku waktu ditinggal Ayahku saat aku berumur 12 Tahun.